DIKEJAR RADIASI


DIKEJAR RADIASI

DIKEJAR RADIASI

Telpon Nanis, temanku dokter dari gedung pavilyun VIP, siang hari itu mengejutkanku di bangsal perawatan psikiatrik tempatku spesialisasi. “Temanmu Harjendro datang di pavilyun VIP, Nuk. Ia ingin ketemu Suryani dan mencegat semua orang yang mau pulang. Ia duduk di tangga depan. Semua tak berani keluar. Ini tugasmu untuk mengamankan dia. Kamu teman dekatnya. Tak ada orang lain yang mampu!”.
Ya, Suharjendro adalah teman dekatku sekelas di fakultas kedokteran. Ia kurus tinggi hampir menyamaiku. Ia kuliah dengan sepeda onthel laki-lakinya yang terkenal. Ia sangat pendiam dan pikirannya cenderung aneh-aneh. Ia juara main catur, dan hampir-hampir tak pernah belajar, selain membaca sekali bahan kuliahnya dan orak-orek menggambar. Lalu hasil tentamen-tentamennya menggemparkan semua tingkat. Ia selalu lulus dengan nilai sembilan hingga tak perlu ujian. Aku selalu memperoleh nilai jelek dari tentamen, harus ujian dan harus mengulang pula. Ketika sampai di siklus koassisten kami berpisah. Setelah satu putaran terlewati, kudengar Suharjendro berhenti. Teman-teman bilang ia mengalami gangguan jiwa, lalu sering menggelandang dan tak satu temanpun bisa menemui dia. Aku lulus dokter lalu ditempatkan di propinsi Timor Timur selama dua tahun. Ketika pulang aku masuk spesialisasi di bagian psikiatri sampai siang yang mendung mendapat telpon yang mengejutkan itu.
Guntur menggelegar sekali di langit yang gelap. Adik-adik koass bergegas pulang ke kandang kendaraan, diikuti teman-temanku residen dan perawat yang tidak jaga. Aku melangkah dengan gontai ke pavilyun di halaman samping selatan rumah sakit pusat tempatku belajar. Suharjendro duduk mencangkung di tangga porselin pintu depan pavilyun. Matanya nanar melihat ke pintu samping tempat keluar petugas yang berkumpul di dalam.
”Mengapa kau disini Har?”, tanyaku setelah berdiri di depannya. Ia memandangku sekilas, seakan sudah tahu bahwa akhirnya aku pasti akan muncul di depannya.
”Kau sudah tahu jawabnya, Nuk, katanya tanpa mengalihkan pandangan.
”Suryani sudah kawin, Har. Sekarang sudah punya anak satu”, kataku hati-hati. Suryani adalah siswa perawat yang ditaksir Suharjendro dulu. Tapi perawat itu menghindar terbirit-birit karena penampilan dan tutur kata Suharjendro yang lusuh dan aneh. Sekarang Suryani bekerja di pavilyun VIP. . Kuyakin ia ada di dalam bersama teman-temannya, tak berani keluar. Berpuluh pasang mata sekilas kulihat berdesakan di jendela-jendela pavilyun melihat kami berdua , satu duduk mencangkung dan satunya berdiri bersidakep. Sepasang mata bulat kulihat di tengah kerumunan pastilah dr Nanis.
”Bohong! Ngarang kamu”, katanya mendadak galak.
”Aku tak pernah berbohong padamu, Har”, kataku. Ia tercenung sesaat. Matanya menerawang jauh.
”Apakah ia sering menanyakan aku, Nuk?”, tanyanya pelan. Aku mengangguk.
”Hmm, mereka pasti bilang aku sakit jiwa ya? Dan ia pasti terpengaruh itu”.
”Tidak, Har. Hanya cara berpikirmu yang tak wajar. Tapi ayolah, tak enak kita berbicara disini. Ayolah ke kamar kerjaku”, ajakku. Ia menggelengkan kepala dan menepis tanganku. Tapi sekali lagi kuulurkan tangan kananku, mencengkeram pergelangan tangannya dan kutarik berdiri dan kuajak berjalan ke bangsal psikiatri. Ia akhirnya menurut. Kudengar riuh dan decak-decak keheranan di belakang jendela-jendela itu, bahkan tepuk tangan. Dua orang satpam RS yang disiapkan Nanis di dalam, akhirnya keluar dan mengikuti kami. Dua lelaki jangkung bergandengan tangan di siang bolong, orang yang melihat pasti berpikir, pasangan homoseksual.
Empat orang perawat jiwa laki-laki besar, bersembunyi di balik pintu depan bangsal psikiatri, mengawasi kami. Dengan satu isyarat dengan tangan kiriku, keempatnya akan menerkam Suharjendro, menjatuhkannya ke tanah, menekan punggungnya dengan lutut dan menyuntiknya dengan chlorpromazine 150mg, lalu memegang kedua tangan dan kaki, menggotongnya ke tempat tidur dan mengikatnya disana. Tapi isyarat itu tak kuberikan. Maka mereka membiarkan kami berjalan masuk ke bangsal.
Sebuah bangsal berisi 10 tempat tidur kebetulan kosong. Disinilah kami berdiskusi. Para perawat menyiapkan alat ECT dan siap menunggu di ambang pintu.
”Mengapa kau berhenti koass dan menggelandang, Har?”
”Seperti yang kuceritakan dulu, aku masih terus dikejar radiasi. Ibuku sudah dipengaruhi rezim itu dan makanan yang diberikannya padaku sudah tercemar radiasi. Begitu juga air minum dan air mandi dari sumur rumahku”.
”Kau bisa merebus air untuk mandi dan minum”.
”Radiasi itu hebat sekali. Tak mempan direbus atau disuling. Jadi aku terpaksa mandi dan minum di rumah tetangga-tetanggaku. Tak sampai seminggu, air di tempat tetangga-tetangga itupun tercemar. Mereka benar-benar ingin membuatku bodoh, tak bisa berpikir dengan mengirim rasiasi itu dan kemudian membunuh diriku sendiri”, katanya.
”Kau bisa mandi te pemandian Umbang Tirto tempat kita dulu”, kataku. Suharjendro sering mengajakku ke pemandian umum ini. Ia mengajariku menyelam dan bersamadi di dasar kolam. Ia juga mengajariku berlatih yoga, dengan menjungkirkan badan dan mengatur napas dengan kaki diatas berlandaskan kepala di bawah. Latihan ini di malam hari bulan purnama, di suatu kuburan kuna di Tawangmangu waktu acara studi tumbuh-tumbuhan berkhasiyat seluruh mahasiswa tingkat satu kesana.
”Tidak. Umbang Tirto juga sudah dicemari radiasi itu. Aku minum dan mandi di kamar mandi terminal bis Umbulharjo. Airnya juga kubawa pulang. Seminggu kemudian sudah tercemar. Aku pindah ke kamar mandi stasiun kereta api Tugu. Tak berapa lama disinipun sudah kena radiasi pula. Jadi aku pindah ke sungai saja”,.
”Kali Code, atau kali Progo?”, tanyaku.
”Ya, kali Code. Hanya seminggu, kemudian kali Progo. Juga hanya beberapa hari, lalu kali Opak di Imogiri. Disini juga hanya seminggu, akhirnya ke laut, pantai Parangtritis”, jawab Suharjendro lesu.
”Kau minum air laut?”, tanyaku.
“Ya. Tapi ku masak dulu, garamnya kusaring. Air laut kumasukkan dua cirigen besar yang kuikat di kiri kanan boncengan sepedaku. Dua hari sekali aku ke Parangtritis. Sering aku tidak pulang dan tinggal dekat pantai itu”,.
”Apa air laut tidak bisa tercemar radiasi dari rezim itu?”, tanyaku.
”Tidak. Jumlah air laut sangat besar. Radiasi ternetralisir’, jawabnya pasti.
”Bagaimana radiasi itu bisa masuk ke tubuhmu, Har?”, tanyaku.
”Ke otakku, tepatnya”,. Lalu ia mencabut sebatang pensil pendek butut dari sakunya yang kotor. Ia menggambar sistem yang ruwet dari rezim pemerintah pada papan kayu tempat tidur yang kebetulan kasurnya sedang di bersihkan. Dari sistem itu radiasi dipancarkan ke otaknya. Ia menggambar tengkorak kepala, lubang-lubang yang dilewati syaraf kepala mulai dari dasar tengkorak. Ia menu7liskan nama-nama latin dari lubang-lubang dan jalur di cranium itu. Jelas aku sudah lupa-lupa ingat semua nama latin itu, tapi ia menuliskannya dengan sangat rinci seakan baru kemarin ujian. Segera kuingat dulu tentamen anatomi yang 200 soal itu ia mendapat nilai tertinggi, sembilan koma lima. Sedang aku yang sudah belajar mati-matian untuk memperoleh nilai enam saja tidak bisa.
”Apakah kau pernah minum haloperidol, Har?”, tanyaku pelan-pelan.
”Wuah, pernah. Diberi guru kita psikiatri. Katanya supaya pikiranku tidak melenceng. Wahamku hilang. Harus diminum sebulan. Buktinya, ancaman radiasi itu tetap saja ada. Ini sungguh-sungguh serius, Nuk. Benar-benar terjadi. Tidak seperti ilmu khayalanmu itu, psikiatri. Itu tidak cocok menjelaskan bahaya yang mengancamku. Aku tak mau minum obat lagi”,.jawabnya keras.
”Kau tahu artinya bila obat tak responsif dan pasien tak mau minum obat lagi”, kataku.
”Apa? Kau akan menyetroomku? ECT? Tidak. Aku tak mau. Itu akan merusakkan susunan syaraf pusatku. Terapi biadab. Itu takkan menolongku!”, katanya semakin keras.
”Itu demi kebaikanmu, Har. Bekerjasamalah denganku. Percayalah. Kau sahabatku. Tak mungkin aku akan mencelakakanmu”, bujukku. Ia semakin keras menolak. Aku melihat ke para perawat di ambang pintu dan mengangguk. Serentak mereka berloncatan masuk bersama dua koass laki-laki yang jaga. Secepat kilat kaki dan tangan Suharjendro ditangkap dan ia dibaringkan di tempat tidur berkasur. Ia berteriak meronta-ronta tapi empat perawat dan dua koass itu terlalu kuat dilawannya. Kedua kaki dan tangannya segera terikat dengan kain di tempat tidur. Berderit meja beroda tempat alat ECT digeser ke dekat kepalanya. Aku menyambar dua kop penyetrum dan mengecek kenopnya dikedua tanganku sambil berteriak memberi insruksi voltase tinggi dan timing pendek supaya tidak terlalu menyakiti, dan adik koass memutar kenop-kenop di alat ECT itu. Selimut putih lorek-lorek RS segera ditutupkan ke tubuh Suharjendro. Perawat memegang spatel di balut khasverban tapi mulut Suharjendro segera terkatup rapat. Seorang perawat menggelitik perutnya dan ketika Suharjendero berteriak kegelian, spatel segera terpasang melintang dimulutnya untuk mencegah bibir dan lidah tergigit. Seorang perawat wanita memasang khasverban basah melintang menutup kening Suharjendro. Enny, teman dekatku dokter, telah menyuruh petugas mengambil tabung oksigen besar yang disorong di atas gledekan untuk kebutuhan sewaktu-waktu. Ia menatap dengan cemas dan sedih bersama para perawat wanita dari jauh.
Dengan mengucap ”bismilah” yang diikuti semua orang, aku menempelkan dua kop penyetrum di kening sisi kiri dan kanan Suharjendro lalu menggencet kenopnya. Segera tubuh Suharjendro terangkat bagai disentak kekuatan dahsyat, listrik voltasi tinggi menyengat kepalanya. Hening sesaat, kemudian tubuhnya meregang dan kejang-kejang hebat mirip serangan epilepsi. Enam pasang tangan perawat dan adik koass di kiri dan kanan tubuh Suharjendro menekan kuat-kuat tubuhnya yang terbalut selimut, mulai pundaknya, kedua lengannya, pingganggnya, paha dan lututnya, kakinya. Tempat tidur bergoyang berdecit-decit menahan hentakan kejang tubuh Suharjendro.
Akhirnya kejang-kejang hebat itu pelan-pelan mereda. Wajah Suharjendro pucat kebiruan kekurangan darah, nafasnya terhenti. Segera para perawat mendorong perutnya ke atas sehingga sekat rongga badannya menekan rongga dada merangsangnya untuk bernafas. Tiga kali dikerjakan mendadak nafas Suharjendro keluar bagai disentakkan. Enny mendesak ke depan dengan dua slang plastik oksigen dari tabung yang siap dicolokkan ke hidung. Tapi tak perlu, dengan tarikan-tarikan dalam, nafas Suharjendro kembali normal. Wajahnya memerah, matanya mulai terbuka dan ia melenguh-lenguh tak sadar apa yang terjadi. Akupun bernafas lega dan membalikkan badan menghadap jendela di lantai dua ini menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca. Hujan mulai turun rintik-rintik. Pegawai-pegawai RS yang berjalan pulang membuka payungnya dan yang naik sepeda motor membuka mantelnya. Riang gembira suara mereka berceloteh. Sebuah ambulans datang menderu merapat dan dua perawat dengan dragbar berlari menyambut pasien yang diturunkan. Nun jauh disana puncak gunung Merapi yang terselimut kabut tebal nampak mencuat pongah. Seakan sinis mengejekku yang tak bisa menolong teman sendiri dan harus melakukan terapi mengerikan itu. Ya, inilah pertama kalinya aku harus melakukan terapi kejang listrik pada sahabatku sekelas. Aku mengusap air mataku yang berlinang-linang. Tapi suara guruku almarhum, Prof Suyono, mendesing ditelingaku : ”Terapi kejang listrik adalah terapi yang paling murah dan efektif untuk skizofrenia pada masyarakat di Indonesia. Inilah terapi paling biadab dalam sejarah kedokteran. Terapi ini memang tidak untuk dilihat, tapi untuk dinikmati hasilnya”,. Ini mengurangi rasa bersalahku. Mudah-mudahan ECT tadi bisa bermanfaat untuk Suharjendro.
Keesokan harinya aku menengok Suharjendro di bangsalnya. Ia sedang duduk di tempat tidur, menggambar pada selembar kertas mesin pembangkit tenaga listrik dari sinar matahari. Pasien-pasien jiwa merubung sambil berdecak-decak kagum. ”Apakah menurutmu aku menderita skizofrenia, Nuk?:, tanyanya sambil tersenyum.
”Pikiran yang terdistorsi dengan waham paranoid sangat aneh, membuatku berpikir demikian. Dan kau tak bisa fokus melanjutkan studimu, menggelandang”, kataku.
”Hm. Keruntuhan Ego? Ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia luar? Itu kata Freud kan?’, kata Suharjendro.
”Ya. Konflik internal yang diproyeksikan keluar dalam bentuk waham paranoid”, jawabku.
”Salah!. Ilmu psikiatrimu tak bisa ditrapkan padaku. Untuk orang lain, mungkin. Bagiku tidak cocok. Aku benar-benar mengalami dikejar radiasi itu”,.
“Baiklah. Tapi kau harus minum obat, Har’,.
Suharjendro terpaksa menurut minum trifluoperazine 5mg tiga kali satu ditambah chlorpromazine 100mg dua kali satu. Seminggu kemudian dia kuantar pulang.
Aku meminta Enny, yang sedang spesialisasi di bagian radiologi, menghubungkan aku dengan seniornya. Mas Gogod adalah radiolog senior yang juga staf di badan tenaga nuklir. Kantornya mempunyai sebuah alat seperti kotak kecil mirip setrika yang bisa mendeteksi benda-benda yang memancarkan radiasi. Bertiga kami berkunjung ke rumah Suharjendro.
Rumah Suharjendro di kampung Lempuyang Wangi adalah sebuah rumah kuna yang sejuk. Di halaman ada pohon jambu dan mangga lebat yang merapat ke dinding tembok samping yang tinggi. Dulu kami sering memanjat pohon mangga ini dan duduk di tembok menghapal anatomi dan fisiologi. Suharjendro bahkan membawa papan caturnya ke atas tembok. Ibu dan kedua kakak perempuan Suharjendro sangat berterima kasih pada kami. Ibunya sambil menangis meminta kami merawat Suharjendro terus. Ia ingin anaknya bisa menjadi dokter seperti teman-temannya. Suharjendro keluar dari kamarnya di belakang yang dulu, dan menyambut kami dengan beberapa lembar koran. Di ruang tamu ia duduk dengan melandasi kursinya dengan kertas koran itu. Demikian pula ketika memegang gelas teh, ia melambari tangannya dengan sobekan koran. Wahamnya masih cukup kuat. Kemudian mas Gogod mendekatkan alat pengukur radiasi itu ke air sumur dan benda-benda di rumah Suharjendro, juga ke air sumur dan ledeng tetangga-tetangga. Jarum di alat itu bergetar tapi tak bergeming, akhirnya diam dititik nol. Kami meyakinkan Suharjendro bahwa pada air maupun benda-benda di rumahnya dan rumah tetangga-tetangga itu tidak terkontaminasi dengan radiasi, terbukti tak ada pancaran radiasi yang terdeteksi oleh alat canggih milik kantor nuklir itu. Ia cuma mendengus, sambil menukas; “Radiasi yang dikirim kepadaku itu radiasi khusus yang luar biasa, tak bisa dideteksi oleh alat secanggih apapun”,. Akhirnya kami pulang dengan berpesan supaya ia meneruskan minum obat dan kontrol ke RS bila obat habis.
Tapi Suharjendro tak pernah kontrol. Dari ibunya kutahu ia menggelandang lagi. Pulang beberapa minggu sekali minta uang untuk makan tapi akhirnya tak pernah pulang. Berbulab-bulan aku kehilangan Suharjendro. Pernah sekali ia duduk di teras rumah Bondan Suryanto, temanku dokter seangkatan yang menjadi Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Bondan memberinya makan dan uang cukup untuk hidup sebulan. Lalu muncul pula di depan rumah Supomo, teman kami seangkatan yang telah menjadi dokter spesialis bedah thorax. Juga Supomo memberinya uang dan memintanya pulang ke rumah. Selang setahun kemudian tiba-tiba ia muncul di tempat praktekku malam hari. Rambutnya panjang, kaosnya putih telah jadi dekil coklat, celana sobek-sobek setinggi lutut dan sepatu sandal kulitnya bertali-tali diseret karena telah jebol. Ia membawa kantong kain dipunggungnnya dengan kayu-kayu yang mencuat. Ia bilang kayu-kayu itu berpantek dan bila dibuka akan menjadi segitiga bersambung-sambung yang bila ditutup plastik bisa melindungi dia waktu tidur dari bahaya radiasi. Maklum ia tak mau minum obat antipsikotik lagi sehingga wahamnya tetap kuat. Aku menyruhnya makan dan mandi tapi ia menolak. Maka aku memberinya uang untuk hidup sebulan dan Enny memasukkan dua rantang berisi nasi berikut lauk pauknya ke dalam kantong kain di punggungnya. Tanpa bisa dicegah lagi, Suharjendro ngeloyor pergi dan hilang ditelan malam.
Lima tahun kemudian, bersamaan dengan dies natalis fakultas, ada reuni besar dokter-dokter angkatan 73, angkatanku. Karena tak bisa menyanyi, teman-teman mendaulatku membaca puisi. Mereka selalu terharu mendengarkan puisi-puisiku tentang “orang-orang yang sakit jiwa”. Tapi kali ini aku tak membaca puisi. Aku membaca cerpen yang sungguh-sungguh terjadi - “Dikejar Radiasi”- yang tokohnya kusamarkan dan kusuruh teman-temanku menebaknya. Bondan dan Supomolah yang bisa menebak dengan tepat. Semua temanku kaget, diam, terpekur. Teman-teman putri bahkan mengusap air matanya. Akhirnya vonis dijatuhkan. Aku harus menemukan Suharjendro dan merawatnya di rumah sakit jiwa tempatku bekerja selama-lamanya. Biayanya mereka yang akan nanggung. Suatu “tugas mulia” yang berat. Kemana ia harus kucari?
Seluruh pelosok kota telah kujelajahi, tak ada orang yang tahu sosok mirip Suharjendro. Suatu malam, aku menutup praktekku dan mobilku menderu pulang. Tiba-tiba kulihat diujung Jalan Gayam yang menikung sosok tinggi kurus berjalan tertatih-tatih dengan buntalan dipunggungnya berisi barang-barang mencuat. Cepat kugenjot mobilku dan langsung menikung. Bayangan itu tak nampak lagi. Aku turun dan berlari-lari di jalan menengok gang-gang kecil di kiri kanan jalan. Tapi sosok kurus tinggi itu telah lenyap. Atau aku yang berhalusinasi? Desir angin yang menjatuhkan daun-daun asam di tepi jalan bagai rintihan di malam yang semakin larut. Sayup-sayup suara anjing menggonggong yang kesepian mirip lagu lamanya Koes Plus. Bayangan seperti Suharjendro itu telah lenyap bagai di telan malam. Bersama waham radiasinya yang abadi.

------------------------------------ dr. Inu Wicaksana, SpKj. twitter :: facebook :: google plus